logoblog

Cari

Tutup Iklan

Lombok Harus Waspada Kasus Kejahatan Seksual Anak

Lombok Harus Waspada Kasus Kejahatan Seksual Anak

Kementrian pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bersama Lembaga ECPAT Indonesia melakukan penelitian terbaru yang memaparkan bahwa telah ditemukan kasus kejahatan seksual

Kriminal

Novita Hidayani
Oleh Novita Hidayani
03 Januari, 2018 09:05:34
Kriminal
Komentar: 0
Dibaca: 3749 Kali

Kementrian pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bersama Lembaga ECPAT Indonesia melakukan penelitian terbaru tentang kasus kejahatan seksual anak di 10 lokasi tujuan wisata Indonesia. 10 lokasi tersebut salah satunya adalah Lombok. Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa pulau Lombok masuk daerah waspada kasus kejahatan seksual anak, mengingat sektor pariwisata Lombok sedang berkembang pesat.

Adapun 10 lokasi daerah pariwisata tersebut diantaranya, Karang Asem (Bali), Gunung Kidul (Yogyakarta), Garut (Jawa Barat), Tobar Samosir (Sumatera Utara), Bukit Tinggi (Sumatera Utara), Lombok (Nusa Tenggara Barat), Kefamenanu (Nusa Tengara Timur), Jakarta Barat, dan Pulau Seribu (DKI Jakarta).

“Karena ada peluang dan kesempatan tempat mencari keuntungan ekonomi di destinasi wisata ini mudah dilakukan dengan cara cepat, jadi anak-anak tergiur, misalnya jadi pemandu wisata,” kata Rini Handayani, Asisten Deputi Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Eksploitasi, Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dikutip dalam berita BBC, 2 Januari 2018)

Di Lombok sendiri, masyarakatnya masih banyak yang belum mengetahui tentang Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA). Padahal berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa Lombok termasuk ke dalam 10 daerah wisata dimana kasus kejahatan seksual anak ini ditemukan.

“Saya kurang tahu mengenai hal tersebut,” tutur Aan, salah seorang pegawai di salah satu Dinas yang ada di Lombok. Hal tersebut juga diamini oleh beberapa temannya yang lain. Tidak hanya di perkantoran, para mahasiswa pun banyak yang belum mengetahui mengenai hal ini, “Nah saya gak tahu,” ujar Ratna salah seorang mahasiswi PTN. Bahkan warga di daerah tujuan wisata sendiri masih banyak yang belum mengetahui mengenai bahaya ekspoloitasi seksual komersial anak ini.

ESKA menurut ILO (2008: 12) merupakan pemakaian anak perempuan dan anak laki-laki dalam kegiatan seksual yang dibayar dengan uang tunai atau dalam bentuk barang (umumnya dikenal sebagai protistusi anak) di jalanan atau di dalam gedung, di tempat-tempat seperti rumah pelacuran, diskotek, panti pijat, bar, hotel, dan restoran. Wisata seks anak, sertapembuatan, promosi dan distribusi pornografi yang melibatkan anak-anak, dan pemakaian anak-anak dalam pertunjukan seks (publik atau wisata)

 

Baca Juga :


Dalam situs resmi ECPAT yang mengutip data UNICEF tahun 2017 memperkirakan 100.000 anak dan perempuan di Indonesia diperdagangkan untk tujuan seksual setiap tahunnya. Selain itu, mereka juga menyebutkan 30% dari perempuan yang bekerja untuk pelacuran di Indonesia berusia di bawah 18 tahun, dengan perkiraan 40.000 hingga 70.000 anak Indonesia menjadi korban ekspolitasi seksual komersial setiap tahunnya. Berhubung Lombok masuk kedalam 10 daerah pariwisata yang ditemukan kasus kejahatan seksual komersial, maka anak-anak dan perempuan Lombok banyak yang masuk ke dalam angka-angka tersebut.

Berdasarkan simpulan penelitian tersebut, pemerintah di harapkan agar lebih serius melakukan perlindungan terhadap anak dari ancaman eksploitasi seks, khususnya di kawasan tujuan wisata. (nov)

sumber gambar: sinarkeadilan(dot)com



 
Novita Hidayani

Novita Hidayani

email: hidayaninovita@gmail.com facebook: Novita Hidayani twitter: @yfoundme

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan