Aksi Kriminalitas di Gili Asahan Ancam Pariwisata

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Lobar H Ahmad Subandi mengakui, aksi kriminalitas yang kerap menimpa wisatawan asing menjadi ancaman pariwisata di daerah. Ke depan dia berharap, Sekotong yang sudah memiliki polsek bisa dikembangkan lagi dengan pendirian pos polisi. Khususnya di lokasi wisata yang rentan terjadi kejahatan. ‘’Ini salah satu upaya kita untuk memberi rasa aman bagi para wisatawan yang datang,’’ jelasnya pada peringatan hari Bumi belum lama ini di Gili Asahan, Desa Batu Putik, Kecamatan Sekotong.

Selain itu, katanya, upaya penyelamatan lingkungan yang dilakukan pihaknya bersama masyarakat dan pihak terkait terus dilakukan. Di antaranya dengan melakukan transplantasi karang sebanyak 200 meja di kawasan Gili Nanggu dan Gili Sudak di Sekotong. ‘’Sejauh ini, terumbu-terumbu karang tumbuh lebih bagus,’’ ujar Subandi.

Dinas melalui beberapa program, seperti Coastal Community Development Project International Fund for Agricultural Development (CCDP-IFAD) telah memfasilitasi warga sekitar pesisir untuk terlibat menjaga ekositem laut. Diantaranya dengan memback up pembentukan kelompok masyarakat pengawas (pokmaswas) dengan dibarengi pemberian bantuan prasarana penunjang.

Khusus di Lobar, sekarang sudah ada sekitar 22 ribu lebih kawasan konservasi yang telah ditetapkan dalam peraturan daerah (perda). Lokasinya berada di sekitar Gitanada (Gili Tangkong, Nanggu dan Sudak). Di kawasan ini sudah ditetapkan beberapa zona, seperti zona inti, budidaya, dan pemanfaatannnya.

Puncak peringatan Hari Bumi yang dibingkai dalam satu even bertajuk ‘’Asahan Menyapa Bumi’’ (AMB) digelar itu dimanfaatkan salah seorang penguasaha wisata setempat yakni Direktur Dive Zone, Mr George.

George menjelaskan, jika pihaknya sudah hampir 10 tahun menjalankan usaha jasa di sektor pariwisata di Sekotong. Para tamunya sebagian besar merupakan wisatawan mancanegara, banyak melakukan kegiatan-kegiatan penyelaman di laut seperti diving dan snorkeling. ‘’Tak hanya sekadar berbisnis, kami juga melakukan upaya penyelamatan ekosistem lingkungan di kawasan ini,’’ tukasnya.

Namun ia merasa resah beberapa bulan terakhir ia dikejutkan dengan aksi pencurian yang dilakukan oknum-oknum tak bertanggung jawab di Desa Batu Putih. Kejadian ini pun ternyata tak hanya sekali menimpa para tamu dan wisatawan asing yang kebetulan berkunjung.

Tidak terhenti sampai di situ, kemungkinan besar, para wisatawan mancanegara yang sudah terlanjur trauma akan menceritakan pengalaman tak mengenakkan itu ke kerabat atau rekan-rekannya di negara asal. Kemudian, bisa dibayangkan efek negatif yang jauh lebih besar terhadap sektor pariwisata daerah. ‘’Mereka akan menyampaikan ke dunia kalau Batu Putih atau Sekotong sudah tidak aman lagi untuk dikunjungi,’’ jelas George.

Sementara kondisi terumbu karang di Gili Asahan dan sekitarnya yang memang menjadi lokasi diving dan snorkeling para turis, menurut dia, tergolong baik. Ada 26 dive side (lokasi diving) yang paling banyak dikunjungi di kawasan ini. Namun dari jumlah tersebut, 7 dive side    yang selalu membuat para tamu ingin kembali, kini sudah hancur akibat tindakan pemboman ikan dan penggunaan bahan-bahan beracun di laut.

Harapan George, melalui puncak peringatan Hari Bumi bisa menjadi corong untuk menyampaikan informasi ke kalau awasan Batu Putih ataupun Sekotong aman dikunjungi. ‘’Ini menjadi keinginan dan harapan tidak hanya bagi Dive Zone, tapi juga para investor lain yang ada di Batu Putih,’’ tandasnya. (Wardi) -01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru